Dimanakah Keadilan di Tanah Papua
Oleh: Arius Tibul,S.I.Kom
Saya sedih melihat kondisi yang sementara terjadi di Tanah leluhur bangsa Papua, tanah yang diberkati Tuhan, Tanah yang penuh susu dan madu korban terus terjadi dimana-mana tiada hentinya seperti jantung berdetak. Apakah kami yang penghuni di negeri ini seperti binatang, yang semaunya manusia berburu untuk menjadi santapan pagi, siang, dan malam. Dulunya yang menghuni di negeri ini 5/4 juta jiwa sekarang menjadi 3 lebih juta. Kapankah penderitaan ini akan berakhir? Kapankah pengakuan bagi kami sebagai manusia? Kapankah nasib kami diperhatikan? Atau apakah kami ini bukan ciptaan Tuhan serupa dengan gambar Allah seperti manusia lain di muka bumi ini, ataukah kami ini memang seperti binatang yang tidak punya akal sehat? Haruskah kami ini dicaplok sebagai manusia radikal, separatis? Sadarkah kamu bahwa hanya karena harta, menghilangkan nyawa manusia yang tidak berdosa? Dimanakah implementasi pancasila dan undang-undang dasar 1945 sebagai falsafah bangsa dan negara?
Indonesia perlua memahami bahwa bebas berekpresi adalah hak asasi manusia sesuai UU yang berlaku di negara republik ini, bukan UU milik jabodetabek melainkan sabang sampai merauke. Jika kami bangsa papua tidak mengikuti aturan UU maka kami mesti pakai apa? Perluhkah kami papua membuat undang-undang sendiri yang mengatur tentang rumah tangga orang asli papua OAP, walaupun sudah ada namun intervensi selalu ada. Tidak ada kekhususan, kebebasa, terukstrutur sesuai dengan 7 wilayah adat dan 257 suku di papua. jika implementasi uu tidak terlaksana maka apa sebenarnya tuntutan rakyat bangsa papua saat ini.
Saya mau katakan bahwa (IDEOLOGI) adalah hal yang paten sampai seribu turunan tidak akan dihapus dengan kesejahteraan di berbagai sektor. Kata Papua Merdeka bukan hal baru sudah ada sebelumnya, sebelum indonesia mengambil alih papua walaupun cacat hukum. Perlu memahami bahwa jika tidak tahu hal itu atau benar menurut kami bangsa papua manamungkin mengungkit persoalan masa lampau sampai dari generasi ke generasi, tetap berbicara trus karena menjadi budaya kami. Jutaan pejuang papua masih dalam rahim ibu belum dilahirkan, sampai indonesia mengakui kedaulatan kami bangsa papua sebagai bangsa melanesyia punya harga diri dan martabat barulah akan muncul kata “DIAM”
Di benak kami tidak ada kata diam yang ada hanya kata Lawan jika keadilan dan kebenaran tidak tegakkan di tanah papua. kata jokowi “jika saya terpilih akan memanggil teman-teman yang ada di hutan, gunung, rawa dan pantai untuk duduk bersama berbicara empat mata” namun 2 periode berjalan 12 kali kunjungan tidak pernah menepati janji itu. Apakah tuan Joko Widodo lupa kata-katamu di waktu kampenye terbuka di lapangan stadion mandala Jayapura? Ataukah sengaja menyemangati rakyat untuk mencari popularitas dan kekuasaan? Hal ini menjadi nyata, jika Anda tidak menepati janji maka kami memanggil Anda untuk berbicara akar persoalan papua selama ini.
Terima kasih semoga tulisan sederhana ini menjadi bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar